Cerita Seks Remaja : Berbagi Kebahagian Dengan Kenalan

Aku dikarunia wajah yang cantik dan tubuh yang sexy. Cerita Seks Remaja : Hal itu karena aku rajin merawat tubuh dan penampilanku. Fitness, o lahraga dan kesalon adalah rutinitasku. Aku cukup bangga dengan payudaraku yang berukuran lumayan besar. Cerita Seks Remaja : Aku suka sekali bercermin dengan telanjang sambil memperhatikan dan mengagumi dadaku. Alan (mantanku) sangat tergila-gila akan gumpalan daging didadaku. Dulu ketika kami masih pacaran, setiap kali bertemu dia pasti meremas-remas dadaku, memilinnya bahkan tidak takut-takut untuk melumat dan menjilatinya. Aku sih menikmatinya saja. Toh dia cowoku. Tapi setelah putus dengannya aku ga bisa lagi merasakan kehangatan yang dulu sering kami nikmati bersama. Aku harus terbiasa dengan masturbasi jika libidoku menyerang. Aku bukan cewe yang progresif yang dengan mudah mengajak orang lain bercinta denganku. Aku masih bisa mengendalikan diriku.

Cerita Seks Remaja : Berbagi Kebahagian Dengan Kenalan | www.novelremaja.com

Tapi terus terang aku sangat menyesal putus dengan cowo seganteng Alan. Tapi aku ga mau terus-menerus bersedih, aku sebisa mungkin menjauhi hal-hal yang bisa mengingatkanku dengannya, yakni dengan jalan bareng dengan teman-temanku, nonton, makan coklat dan ke Diskotik. Aku kediskotik biasanya tiap malan minggu bareng teman-temanku, tapi kalo BT abis tak jarang aku sendiri.

Hari itu hari selasa, aku melihat roster kuliahku, besok hanya ada satu mata kuliah yakni jam 3 sore. Maka kuputuskan untuk pergi kediskotik sekedar having fun saja. Tapi semua teman yang kuajak satupun ga ada yang bisa dengan alasan besok kuliah pagi, maka terpaksa aku pergi sendiri.

Maka kugunakan gaun yang kubeli tadi siang dari mall. Gaun itu cukup sexy dengan belahan dada yang rendah dan ketat. Ketatnya gaun tersebut mengakibatkan tonjolan didadaku semakin menonjol. Dapat kulihat putingku menonjol disana. Selain itu Hanya ada 2 buah tali di pundakku yang menyagganya agar tidak jatuh. Hal itu tentu memamerkan lenganku yang putih mulus. Gaun itu hanya sebatas lutut, sehingga betis mulusku dapat dinikmati setiap orang yg melihat. Aku memperhatikan penampilanku di cermin. Sexy sekali pikirku. Aku sangat percaya diri sekali.

Maka segera kukendarai mobilku ke diskotik "F" favoritku. Baru aku menginjakan langkahku di dalam, aku disambut dengan dentuman musik house. Diskotik itu tidak terlalu ramai, maklum bukan "peak time". Aku mengambil tempat dipojok agar aku bisa melihat kesekeliling. Aku mulai terbawa suasasa. DJnya sangat pintar memilih lagu. Segera kupesan minuman favoritku dan langsung kutegak sampai habis. Badanku terasa hangat. Aku lalu bergabung dngan yang lain yang sedang menikmati suasana malam itu. Aku menggoyang-goyangkan tubuhku kesana-kemari. Aku tidak memperdulikamn tatapan liar lelaki disekitarku, malah aku main menikmatinya.

Setelah cape aku kembali ketempat dudukku dan memesan minuman lagi. Dan langsung kutegak juga untuk mengurangi rasa aus ditenggorokanku. Tiba-tiba seorang cowo menghampiriku.

"Boleh duduk disini?" tanyanya sopan sambil menunjuk kursi didepanku.

Aku menatap laki-laki itu, dia tersenyum memamerkan giginya yang putih bersih. Dari stelan pakaian yang digunakannya dapat kutebak kalo dia orang yang cukup berada. Mungkin eksekutif muda.

"Silahkan" jawabku tidak keberatan, karena memang aku butuh teman malam itu. Orangnya cukup ganteng dan tinggi. Walau lampu remang-remang aku masih bisa melihat kumisnya yang baru dicukur sehingga meninggalkan sisa-sisa kumis yang tipis. So gentlemen batinku. Aku tersenyum hangat juga kedia.

"Kamu sendirian ya?" tanyanya membuyarkan lamunanku.

Aku hanya mengangguk sambil meminum habis sisa minumanku. Dia memperhatikan caraku menegak munuman.

"Boleh kutraktir minum?" tanyanya lagi, tanpa menungu persetujuanku dia segera memanggil pelayan dan memesan minuman.
"Nama saya Stanko" ujarnya sambil menjulurkan tangannya dengan tersenyum. Ih. . . gantengnya pikirku.
"Aliah" kataku menyambut uluran tangannya. Kubalas juga senyumnya dengan senyum nakalku. Siapa sih yang tahan dengan cowo seganteng Stanco.
"Masih kuliah atau sudah bekerja?" tanyanya.
"Saya masih kuliah" jawabku "emang saya sudah seperti gadis yang bekerja?" tannyaku yang di sambut dengan tawanya.

Tak terasa kami mulai akrab. Kami bercerita panjang lebar. Dia adalah seorang sarjana mesin dan sedang bekerja di Malasya, dia pulang karena cuti. Umurnya 27 tahun, tapi karirnya lumayan bagus. Dalam waktu yang relative singkat dia sudah bisa menjadi eksekutif muda.

Kami bercerita panjang lebar sambil tertawa-tawa. Sesekali dia menatap kearah dadaku yang terguncang-guncang jika aku tertawa. Dia pasti kagum dengan wajah dan penampilanku malam itu. Aku sudah tidak menyadarinya karena kuraskan aku mulai mabuk, kepalaku pening. Tapi aku masih memesan minum lagi sampai kurasakan aku benar-benar mabuk.

"Tolong antar aku ke mobil, bisa ga?" ujarku karena aku merasa sudah tidak kuat lagi berjalan.

Segera dipapahnya tubuhku kearah mobil. Aku mengambil kunci mobil dan mulai membuka pintunya, tapi kesadaranku belum benar-benar sempurna sehingga membuka pintu saja aku kepayahan.

"Bisa nyetir ga, Aliah?" tannyanya.
"Bagaimana kalo aku antar kamu pulang?" tanpa meminta persetujuanku dia segera mengemudiakan mobilku.

Segera kuberi alamatku dan kami segera meluncur kesana. Dimobil aku hanya tiduran untuk mengurangi berat dikepalaku. Sesampainya dirumahku dia memapahku turun dari mobil. Aku yang belum sadar betul memintanya mengantarkanku kekamar. Kebetulan pembantuku tidak ada dirumah. Maka dia memapahku kekamar dan menjatuhkan tubuhku kekasur. Dia membuka sepatuku dan memberikan tisu basah untuk melap wajahku. Perlahan kesadaranku mulai dating walau masih pening kurasakan.

"Terima kasih ya, Stan. Kalo ga ada kamu aku ga tahu harus pulang bagaimana" ujarku. Dia hanya tersenyum. Manis sekali.
"Ga pa-pa kok" sahutnya "ya udah kamu istirahat aja dulu, aku balik sekarang ya". Tidak tahu karena sikap gentemennya ato Karena pengaruh alcohol aku berdiri dan mendekatinya.
"Terimakasih ya" ucapku lagi. Mataku menatap matanya, ntah siapa yang mulai kami sudah berciumandengan hangat. Kurasakan bibirnya bergetar menikmati bibir hangatku.
"Maukah kau menemaniku malam ini, stan?" tannyaku.

Aku cukup kaget dengan ucapanku sendiri, sejak kapan aku jadi agresif seperti ini pikirku. Mungkin pengaruh alcohol ato kepribadiannya yang menyenangkan membuatku ingin membalas kebaikannya. Aku akhirnya tak peduli, yang penting aku bisa menikmati malam ini tanpa sendirian dirumahku yang sepi dan besar ini.

Dia hanya menatapku sambil tersenyum lalu kembali melumat bibirku. Ciuman kami sangat panjang dan indah. Aku menikmati bibirnya dimulutku. Lidah kami saling bertayut. Sunguh ciuman yang panjang dan nikmat. Baru saja aku nikmati bibirnya yang hangat di bibirku, aku merasa ada yang meraba tubuhku, disusul remasan halus di dadaku. Aku tahu itu Stanco, aku tidak menolak. Aku biarkan dia main-main di sana. Ciumannya sekarang beralih ketelingku. Di kulumnnya benda itu sehingga meimbulkan sensasi geli. Dia lalu membalikkan tubuhku sehingga aku membelakanginya. Digesernya rambutku yang menutupi leher lalu dia mendaratkan ciumannya kesana. Dijilatinya leher jenjangku. Lidahnya bermain-main disana dari atas kebawah berulang-ulang. Aku suka rangsangan dengan sensasi geli seperti ini

"Ahh. . . " hanya itu yang keluar dari mulutku, sungguh gentlement sikapnya.

angannya kembali meremas-remas dadaku yang masih ditutupi gaunku. Aku tak kuasa untuk tidak mendesah kala ciumannya beralih ke pundakku yang tebuka. Aku melayang dibuatnya. Sengguh sangat romantis perlakuanya kepadaku. Aku mulai meremas-remas rambutnya.

Puas menyerang bibir, telinga, leher dan dadaku, Stanco makin berani, dia angkat badanku dan diduduki di pinggir ranjang. Dia cium aku sekali lagi, terus dia mau buka gaunku. Diturunkannya tali gaunku yang ada dikana-kiri pundakku, sehinga dadaku langsung terpampang dihadapannya. Nampak braku kekecilan menampung semua dadaku yang lumayan besar. Dia juga mulai melepaskan semua bajunya hingga tersisa celana dalam putih. Aku lihat penisnya yang membayang di balik celana dalamnya, aku coba menerka-nerka ukurannya sambil membanding-bandingkan dengan penis alan (mantanku).

Waktu aku berhenti memikirkan benda dibalik CDnya, aku baru sadar kalau bra-ku sudah dilepasnya. Sekarang dadaku telanjang bulat. Kurasakan hembusan angiin menerpa dadaku yang padat berisi. Ada perasaan risih kala dadaku telanjang bulat dihadapannya, orang yang baru kukenal beberapa saat yang lalu. Stanco menatap takjub kearah bongkahan daging didadaku. Dapat kulihat dia menelan air liurnya sendiri. Aku tak heran akan ketakjupannya memandangi benda favorit laki-laki itu. Pasti semua laki-laki terkesima juga melihat payudaraku yang putih, mulus dan indah dengan ujungnya menjulang keatas. Putingku yang berwarna kemerah-merahnya menambah kesexyan dadaku, apalagi ukurannya cukup besar membuat orang yg pernah menikmatinya ingin menikmatinya lagi. Begitu juga dengan Stanco.

"Indah sekali, Aliah" ujarnya kagum, setelah lama hanya memandangi saja. Aku tentu saja bangga dipuji cowo keren seperti stanco. Dia mulai meremas dadaku lagi, kurasakan tanganya lembutnya dipermukaan dadaku. Diremasnya benda kenyal itu. Diplintirnya putingku dengan ujung jarinya. Aku hanya bisa memejamkan mata. Nafasku memburu dan aku mulai merasakan bagian selangkanganku mulai basah. Apalagi saat ibujari dan telunjuknya mulai mempermainkan puting payudaraku yang sudah semakin mengeras.

Tiba-tiba remasan itu berhenti, tapi ada sesuatu yang hangat di sekitar dadaku, terus berhenti di putingku. Aku melek sebentar, Stanco asik menjilati putingku sambil sesekali mengisap-ngisap. Kontan tubuhku bergetar hebat menahan kenikmatan tersebut. Tiba-tiba ada sepercik perasaan liar menyerangku. Aku ingin lebih dari itu. Mungkin karena pengaruh alcohol, Aku ingin merasakan kenikmatan yang lebih. Godaan itu begitu menggebu. Lalu tanpa sadar tanganku memegang kepalanya seolah-olah membantunya untuk memuaskan dahagaku.

Kemudian dilepaskannya dadaku dan dia merebahkan tubuhku ditengah ranjangku. Lalu dibukanya gaunku melewati pantatku. Kini aku hanya mengenakan CD biruku saja. Paha mulusku menjadi santapan tangannya. Dielusnya pahaku yang putih bak pualam itu. Tangan kanannya dengan lihat menyapu setiap ujung pahaku bahkan sampai kepangkal pahaku. Ini membuat syarafku semakin terangsang hebat. Apalagi tangannya yang kiri mulai meremas lagi kedua belah payudaraku dengan gemasnya. Mataku kembali terpejam dan bibirku mendesah-desah.

Aku kembali melayang di awan saat dengan gemas. Stanco menghisap kedua puting payudaraku bergantian. Rangsangan yang kuterima begitu dahsyat untuk kutahan. Harus kuakui, dia sangat pandai mengobarkan birahiku. Jilatan demi jilatan lidahnya keleher dan dadaku benar-benar telah membuatku terbakar dalam kenikmatan.

Kemudian aku buka mata sambil melihat bagaimana Stanco menjelajahi setiap lekuk tubuhku. Tapi tiba-tiba aku dikagetkan sesuatu yang menyentuh selangkanganku. Tepat di bagian vaginaku. Aku tidak sadar mendesah panjang. Rupanya Stanco sudah membuka CDku, kain penutup terakhir tubuhku. Aku tidak sadar sedari kapan dia menelanjangiku bulat-bulat. Aku sangat malu sekali dalam keaadan telanjang bulat dihadapan lelaki yang sama sekali belum kukenal lama. Tapi perasaan risih itu mulai kutepis, keinginan untuk menikmati lebih jauh mengalahkan semuanya. Pikiranku terhenti karena kali ini jarinya mengelus-elus vaginaku yang sudah basah sekali. Otot vaginaku bergetar kala dia menggosokkan jarinya disana. Sementara itu, dia masih terus menjilati puting susuku yang sudah mengeras sebelum akhirnya dia pindah ke selangkanganku.

Aku menarik nafas dalam-dalam waktu lidahnya yang basah dan hangat pelan-pelan menyentuh vaginaku. Aku kontan bergetar hebat kala lidahnya tepat menyentuh bagian terindah dari tubuhku tersebut. Aku bergelonjotan seperti kena setrum lisrik ratusan watt. Dan tanpa terasa bibirku menjerit keras.

"Auw. . . . " lolongku.
Malah aku makin menggila kala jilatannya kini naik ke klitoris-ku, dan waktu lidahnya itu menyentuh klitoris-ku, aku tidak sadar mendesah lagi, dan tanganku tidak sengaja meremas rambutnya. Jarang-jarang aku di oral teman ML-ku, sehingga oralnya terasa special buatku. Aku meremas bantal disampingku denga keras, mencoba mengurangi 'penyiksaan' ini.

Dia cukup mengerti keadaanku yang sangat kaget dioralnya. Maka dia kembali menyerang dadaku, terus diciumnya bibirku, leherku dan hidungku dan kembali lagi kedadaku. Dia sangat menyukai benda kenyal didadaku itu. Sambil menyerang dadaku perlahan tangan kembali beralih ke vaginaku. Selangkanganku terasa semakin banjir saja karena jarinya mengorek-ngorek lubang itu. Satu jari tanganya masuk semakin dalam kerongga itu, lalu ditariknya keluar masuk secara perlahan dan lembut. Supah aku menyukai kelembutannya.

Tapi itu tidak berlangsung lama karena dia melanjutkan permainannya di selangkanganku. Kembali liang senggamaku menjadi persinggahan mulutnya. Mulutnya kadang mengisap dan kadang meniupkan angin sehingga menimbulkan sensasi luar biasa. Stanco benar-benar jago mainkan lidahnya, benar-benar bikin aku merem-melek keenakan. Terus di melintir-melintir klitorisku pakai bibirnya. Aku seperti kesetrum tidak tahan, tapi Stanco malah terus-terusan melintir-melintiri "kacang"-ku itu. Jilatanya menyapu setiap millimeter vaginaku. Sambil mengoralku tanganya tak pernah berhenti, dia meremas-remas paha dan pantatku. Bahkan tanganya menjulur ketas untuk kembali meremas puting dadaku yang semakin mencuat tegak. Aku sudah sangat keringatan, oral terpanjang dan terindah yang pernah kudapat.

"Euh. . . ah. . . ah. . . ach. . . aw. . . " aku sudah tidak tahu bagaimana aku waktu itu, yang jelas mataku buram, semua serasa mutar-mutar.

Badanku lemas dan nafasku memburu. Aku benar-benar pusing, terus aku memejamkan mataku, ada lonjakan-lonjakan nikmat di badanku mulai dari selangkanganku, ke pinggul, dada dan akhirnya bikin badanku kejang-kejang tanpa bisa aku kendalikan. Aku orgasme. Desahan panjang menandakan orgasmeku bersamaan dengan mengucurnya cairan cintaku membasahi selangkanganku. Cairan bening dari vaginaku mengucur deras membasahi mulutnya. Segera dilepaskanya mulutnya dari vaginaku. Kubuka pahaku dengan lebar sehingga cairanku mengalir dengan sendirinya.

Aku menatap langit-langit kamarku, sengguh indah sekali permainannya di selangkanganku. Mataku menatapnya, kulihat mukannya sangat merah, dia pasti sangat bernafsu sekali melihat kondisiku. Dan satu yang pasti dia pasti ingin sekali merasakan jepitan vaginaku di penisnya. Tapi dia belum melakukanya. Stanco memberikan handuk kepadaku untuk menyeka keringatku. lalu memberiku minum air putih untuk mengisi kerongkonganku yang kering akibat aku berteriak-teriak dari tadi.

Aku makin kagum dibuatnya, dia memberikan kenikmatan kepadaku terlebih dahulu dan tak mau memaksaku. Dia memberikanku waktu istirahat. Sungguh gentlement sikapnya. Aku mulai menyukainya, aku ingin membalas kenikmatan yang diberikannya padaku. Maka kudekati dirinya yang kini duduk disisi ranjang. Aku tersenyum padanya. Segera kulumat bibirnya dengan lembut. Dia membalasku. Sambil berciman dengannya perlahan-lahan tanganku beralih kebalik CDnya. Kuremas benda itu. Dia mendesih sambil kembali menyerang dadaku. Merasa terhalang oleh CDnya, Stanco lalu melepas penutup penisnya itu. Aku dapat melihat batngnya yang sudah menegang. Lumayan besar dan kokoh. Lebih besar dari milik alan mantanku.

Tanpa menunggu lama, kembali kuremas penisnya. Kukocok-kocok keatas dan kebawah. Hal itu membuatnya makin mendesah. Aku ingin memuaskannya sama seperti dia memuaskanku tadi. Maka segera aku bersimpuh dilantai, kepalaku tepat berada didepan penisnya. Aku menatapnya denga tersenyum nakal. Dia hanya menatapku sambil menanti tindakanku selanjutnya. Penisnya yang hampir maksimal hanya beberapa inci berdiri di depan mukaku. Dia megangi batang penisnya pakai tangan kanannya, tangan kirinya membelai rambutku. Kemudian aku buka mulutku, aku jilat sedikit kepala penisnya. Hangat dan bikin aku ketagihan. Aku mulai berani menjilat lagi, terus dan terus. Stanco hanya duduk di tepi ranjang, kedua kakinya dibiarkan terlentang. Dia menikmati mulutku yang mulai bekerja

Mula-mula aku cuma menjilati, terus aku mulai emut kepala penisnya, aku hisap sedikit terus kumasukkan semuanya ke mulutku. Kepala penisnya sudah menyodok ujung mulutku, tapi masih ada sisa sedikit lagi lagi. Aku tidak maksakan, aku gerakkan naik-turun sambil aku hisap dan sesekali aku gosok batang penisnya pakai tangan kiriku. Harus kuakui dalam urusan oral sex, aku bukanlah ahlinya. Tapi Stanco sepertiya puas juga sama permainanku, dia memperhatikan bagaimana aku meng-"karaoke"-in dia. Dia mengguman tak jelas setiap kali lidahku menyentuh ujung batangnya sambil sesekali membuka mulut. Aku mulai bisa menikmati bagaimana enaknya mengoral penis laki-laki, apalagi dari orang yang mulai kusukai ini. Tak terasa nafsukuun mulai bangkit. Aku tak tahan melihat desahn kenikmatan darinya kala penisnya kuoral seadanya.

Sekitar 5 menit akhirnya Stanco tidak tahan, sepertinya dia tidak mau cepat-cepat orgasme sebelum permainan yang lebih dalam. kemudian dia berdiri, didorongnya badanku ke lantai sampai aku terlentang. Lantai kamarku dilapisi oleh permadani yang sangat empuk sekali, sama empuknya dengan kasur (walau tak seempuk spring bedku), makanya aku tak menolak jika dia membaringkaku disana. Diambilnya 2 buah bantal besar untuk menyangga kepalaku. Kemudian dia bersimbuh dilantai, dibukanya pahaku agak lebar dan dijilatnya sekali lagi vaginaku yang mulai kebanjiran. Terus dipegangnya penisnya yang sudah sampai ke ukuran maksimal. Aku menanti dengan perasaan berdebar-debar. Dia mengarahkan penisnya ke vaginaku, tapi tidak langsung dia masukan, dia gosok-gosokkan kepala penisnya ke bibir vaginaku, kembali sarafku terangsang dibuatnya. beberapa detik kemudian dia dorong penisnya ke dalam. Seperti ada sesuatu yang maksa masuk ke dalam vaginaku, menggesek dindingnya yang sudah dibasahi lendir.

Cerita Seks Remaja : Vaginaku sudah basah, tetap saja tidak semua penis Stanco yang masuk. Paling hanya setengahnya Dia tidak memaksa, dia cuma mengocok-ngocok penisnya di situ-situ juga. Aku mulai merem-melek lagi merasakan bagaimana penisnya menggosok-gosok dinding vaginaku yang sempit itu. Aku merasakan benar-benar nikmat. Waktu aku asik merem-melek, tiba-tiba penis Satnco maksa masuk terus melesak ke dalam vaginaku.

"Aw. . . ah. . . " aku tak kuasa untuk tidak menjerit kala penisnya melesak semuanya kevaginaku. Uuhhh . . . aku merasakan nikmat desakan batang yang hangat panas memasuki lubang kemaluanku. Sesak. Penuh. Tak ada ruang dan celah yang tersisa. Daging panas itu terus mendesak masuk.

"Nikmat sekali vaginamu, Al" ujarnya bergetar. Aku hanya melototkan mataku kearahanya, ga tahu mo ngomong apa. Yang pengting aku ingin segera menikmati indahnya dunia. Stanco sendiri juga mengerang nikmat akibat himpitan dinding vaginanya

Stanco mengerti akan keinginanku yang ingin segera dipuaskan, maka dia mulai menggerakkan pinggangnya naik-turun. Penisnya menggesek-gesek vaginaku dengan pelan dan lambat. Ditariknya pelan kemudian didorongnya. Ditariknya pelan kembali dan kembali didorongnya. Begitu dia ulang-ulangi dengan frekewnsi yang makin sering dan makin cepat. Stanco makin cepat dan makin keras mengocok vaginaku, aku sendiri sudah merem-melek tidak tahan merasakan nikmat yang terus-terusan mengalir dari dalam vaginaku. Payudaraku bergoncang-goncang, rambutku terburai, keringatku, keringatnya mengalir dan berjatuhan di tubuh masing-masing. mataku menatap langit-langit kamarku dengan tatapan kosong, dan mata Stanco sama-sama melihat keatas dengan menyisakan sedikit putih matanya.

"AHh. . . aHHH. . . terus. . . stan. . . terus. . . " jeritku panjang . Aku tidak bisa tidak mendesah setiap kali dia menggenjotku, suaraku membahana di seluruh kamar. Malah terkadang aku harus menggigit bibir atau jari. Dia semakin cepat memaju-mundurkan penisnya, hal ini menimbulkan sensasi nikmat yang terus menjalari tubuhku.

Tidak berapa lama kemudian, Kedua pergelangan kakiku dipegangi olehnya. Stanco lalu menaikkan kedua betisku ke bahunya. Tanpa menunggu lama dia kembali menyentuhkan kepala penisnya ke bibir vaginanya. "Shhh. . . " desahku sambil menggigit bibir atasku. Aku meringis dan mengerang saat liang senggamanya yang masih rapat diterobos benda itu lagi, tubuhku kembali tegang sambil meremasi bantal disampingku. Dengan posisi seperti itu penisnya lebih dalam menyentuh rahimku. Kemudian dengan frekwensi yang tinggi disodok-sodokkannya penis itu. Dadaku makin bergerak bebas keatas dan kebawah. Matanya menatap tajam kearah dadaku yang bergerak-gerak, aku sangat menikmati matanya yang melotot hamper keluar, saat dadaku bergerak dengan indahnya. Aku sudah tidak bisa melukiskan lagi kenikmatan yang kualami.

Kenikmatan yang kurasakan makin bertambah kala tangannya mulai meraba dadaku yang bergoyang-goyang. Diremasnya kedua payudaraku yang kiri dan yang kakan secara bergantian. Diplintir-plintirnya putingku dengan gemasnya.

“Ayo. . . Stanco. . . puaskan aku. . . oh. . . oh. . . " aku mulai liar.
"Puaskan. . . aku. . . sayang. . . ayo. . . " aku mendesah-desah dengan ribut.

Remasannya kurasakan makin intens didadaku. Malah kini cederung kasar, dia mulai menarik-narik buah dadaku sesukanya. Aku makin mejerit kesakitan, tapi tak sebanding dengan kenikmatan yang kurasakan dibawah sana. Untuk lantai kamarku dilapisi ambal yang sangat lembut, kalo karpet bias pasti aku tidak akan merasakn kenikmatan ini.

Stanco menaikkan tempo permainannya, disodoknya Aku sambil sesekali digoyangnya ke kiri dan kanan untuk variasi, tak ketinggalan tangannya meremasi pantatnya yang montok. Aku semakin menggeliat keenakan, desahannya pun semakin mengekspresikan rasa nikmat. Sepertinya sebentar lagi aku akan "keluar", Maka Aku ikut menggoyangkan pantatku sehingga terdengar suara badan kami beradu yaitu bunyi plok-plok tak beraturan yang bercampur baur dengan erangan kami. Ranjang didepanku kulihat makin lama makin kabur, Sementara rasa nikmat semakin menyerobot jiwaku.
Demikian secara beruntun, semakin cepat, semakin cepat, cepat, cepat, cepat, cepat, cepaattt. . . ceppaattt. . . .

Sampai akhirnya kurasakn suatu ledakan direlung sanubariku. Aku orgasme dalam waktu yang tidak terlalu lama. Pengaruh alcohol membuatku orgasme dengan cepat. Kurakan cairan vaginaku mengalir dengan deras membasahi penisnya yang masih tegang.

"Ooohhh. . !" desahku dengan tubuh menegang dan mencengkram lengannya. Tubuhku lemas sekali setelah sebelumnya mengejang hebat, keringatku sudah menetes-netes di ambal. Nikmat. . . hanya satu kata mengakhiri orgasmeku.

Namun sepertinya Stanco masih belum selesai, nampak dari penisnya yang masih tegang. Sungguh hebat laki-laki ini, batinku, aku yang sudah orgasme 2 kali sedangkan dia satu kali pun belum. Tapi aku tahu bahwa dalam kondisi normal (tidak mabuk seperti saat ini), aku pasti bisa mengimbanginya. Stanco sangat perhatian kepadaku, dia tidak mau memakasakan nafsunya kepadaku, walau aku tahu libidonya sudah tinggi sekali, tapi dia masih sabar menuntunku ke kondisi normal. Hal itu sungguh sikap yang jantan. Aku sangat nyaman berada didekatnya. Aku cuma diangkat dan dibaringkan di atas ranjang, lumayan aku bisa beristirahat sebentar karena dia sendiri katanya kecapekan tapi masih belum keluar. Tubuh telanjangku tergelatak tak berdaya ditengah-tengah ranjang, aku sudah tidak risih lagi kala tatapannya nanar keseluruh tubuhku, terlebih-lebih kearah dadaku yang bergerak-gerak dengan perlahan seiring dengan tarikan nafasku. Kami menghimpun kembali tenaga yang tercerai-berai.

Selang beberapa saat Stanco mulai beraksi lagi, nampaknya dia sangat penasaran maka dia memagut bibirku yang kubalas dengan tak kalah hot. Aku memainkan lidahku sambil tanganku memijat penisnya yang masih tegang. Kali ini dia tidak lagi meraba dadaku atau tubuhku yang lain, malah dia membalikkan tubuhku. Kutelungkupkan tubuh telanjangku ditengah ranjang dan menaruh kepalaku di atas bantal. Aku sudah pasrah mau diapakan saja olehnya.

Stanco menaikiku lalu mencium juga mengelusi punggungku, aku mendesah merasakan rangsangan erotis itu. Ciumannya makin turun sampai ke pantatku, disapukannya lidahnya pada bongkahan yang putih sekal itu, diciumi, bahkan digigit sehingga aku menjerit kecil.

Mulutnya turun ke bawah lagi, menciumi setiap jengkal kulit pahaku. Lambat laun aku mulai menikmati caranya memperlakukanku. Beberapa saat kemudian dia menekuk paha kananku ke samping sehingga pahaku lebih terbuka. Aku mulai merasakan jari-jarinya menyentuh vaginaku, dua jari masuk ke liangnya, satu jari menggosok klitorisku. Aku hanya mendesah dengan pelan.

"Kita mulai lagi ya, Al" pintanya sopan. Aku hanya mengagguk walau aku ga tahu apa aku masih bisa mengimbanginya karena rasa lelah sudah menguasaiku. Tapi keinginan untuk memuaskannya mengalahkan rasa capekku.

Stanco lalu mengangkat pantatku ke atas, kutahan dengan lututku dan kupakai telapak tangan untuk menyangga tubuh bagian atasku. Dia nampaknya ingin doggy style, aku jadi teringat Alan yang sangat suka gaya tersebut.

Shit. bisa-bisanya aku ingin lelaki yang telah memutuskanku. Mendingan aku menikmati kenikmatan ini dengan dengan stanco, pikirku. Belum habis pikiranku, kurasakan benda tumpul menyeruak ke vaginaku. Aku meringis dengan mata terpejam menghayati moment-moment penetrasi itu. Tenagaku yg sudah terkuras mengakibatkan jeritanku menjadi desahn pelan.

"Sh. . . hhh. . . " hanya itu yg keluar dari mulutku.

ia kembali memacu tubuhku. Dimaju-mundurkannya batanganya dilobangku. Dengan posisi doggy seperti ini kurasakn sodokannya makin mantap. Aku tak kuasa menahan desahanku menerima hujaman-hujaman penisnya ke dalam tubuhku. Sensasi yang tak terlukiskan terutama waktu dia memutar-mutar penisnya di vaginaku, rasanya seperti sedang dibor saja. Walau sangat letih aku tak rela kalau sensasi ini cepat-cepat berlalu, makannya aku mulai mengimbangai sodokannya. Aku selalu mendesah menikmati penisnya ditelan vaginaku. Selangakanku yang sudah basah kuyup menimbulkan bunyi kecipak setiap menerima tusukan.

Stanco benar-benar ahli, sambil mengocok vaginaku dia juga meremas-remas pantat sekalku. Dia sangat bernafsu melihat pantatku yang maju mundur diadapannya. Hal itu terbukti dari remasannya yang tak ada henti-hentinnya, bahkan sesekali dicengkramnya bulatan pantatku dengan keras. Aku tak kuasa untuk tidak mendesah kala titik sensitifku itu di perlakukannya sesukanya.

Penisnya masih beroperasi di dengan bebasnya divaginaku. Diaduk-aduknya sambil sesekali digoyang-goyankan didalam ronggaku. Permainannya sungguh membuatku terhanyut, dia selalu memulainya dengan genjotan-genjotan pelan, tapi lama-kelamaan sodokannya terasa makin keras sampai tubuhku berguncang dengan hebatnya. Setelah itu kembali pelan lalu keras lagi. Saat tubuhku berguncang dengan hebatnya otomatis dadaku juga makin bergunjang juga. Kesempatan itu tidak disia-siakannya, langsung disambarnya dadaku yang makin membesar karena aku menungging. Diremasnya sambil dipelintir-pelintir putingnya. Aku merasakan tubuhku makin terbakar, aku menggeliat sambil meremas-remas ranjangku yang sudah berantakan. Desahanku makin menjadi-jadi. Tenagaku terkumpul kembali aku aku mulai ikut mengimbangan sodokannya. Sambil menyodokku tanganny berpindah dari punggung ke dada dan kepantatku. Tapi paling lama tangana bergerilya didadaku, dia nampaknya sangat menyukai benda itu. Selain diremas, sesekali juga ditarik-tariknya kebawah, sehingga membuatku makin bersemangat melawan pompaannya.

"Ah. . . euh. . . ah. . . aw. . . " aku cuma bisa mendesah setiap kali Stanco menyodokkan penisnya ke vaginaku.

Aku sudah tidak bisa ngapa-ngapain setiap kali dia menyodokkan penisnya, selain ikut juga bergoyang seirama dengannya. Stanco makin semangat menyerang titik-titik sarafku. Pinggulnya bergerak cepat diantara kedua pahaku sementara mulutnya mencupangi pundak dan leher jenjangku. Aku hanya bisa menengadahkan kepala dan mendesah sejadi-jadinya. Dari pantatku, lalu dadaku, kini leher dan pundakku menjadi bulan-bulanan lidahnya. Goncangan kami makin lama makin cepat. Goncangan makin cepat itu juga membuat ranjangku ikut berderak-derak.

Aku menjerit keras ketika tiba-tiba dia tarik rambutku dan tangan kanannya juga ikut menarikku ke belakang. Rupanya dia ingin menaikkanku ke pangkuannya. Sesudah mencari posisi yang pas, kamipun meneruskan permainan dengan posisi berpangkuan membelakanginya. Dengan posisi itu penisnya makin dalam menerobos vaginaku. Kurasakan hamper sampai dirahimku. Dengan mendesah-desah aku membantunya menggoyang-goyangkan pantatku. Harus kuakui dia sungguh hebat dan pandai mempermainkan nafsuku, aku sudah dibuatnya 2 kali orgasme, tapi dia sendiri masih perkasa.

Stanco melancarkan pompaannya terhadapku dengan semangat sekali, kali ini ditambah lagi dengan cupangan pada leher dan pundakku. Aku hanya tertunduk membiarkanya menikmati leher jenjangku. Tangannya juga ikut-ikutan meremas payudaraku yang bergerak bebas. Aku sudah tidak bisa lagi melukiskan keindahan yang kurasakan. Lebih indah dari segala hal.

"Ahh. . . yeahh, terus. . . " desahku dengan terbata-bata. . Genjotannya semakin kuat dan bertenaga, terkadang diselingi dengan gerakan memutar yang membuat vaginaku terasa diobok-obok.

Aku mengangkat kedua tanganku dan melingkari lehernya, lalu dia menolehkan kepalaku agar bisa melumat bibirku. Aku semakin cepat menaik-turunkan tubuhku sambil terus berciuman dengan liar. Aku berusaha menimbangi genjotannya. Tangannya dari belakang tak henti-hentinya meremasi dadaku, putingku yang sudah mengeras itu terus saja dimain-mainkan. Malah kini bibirnya mulai menjelajahi dadaku. Sambil terus menggenjot, Stanco menyorongkan kepalanya ke payudaraku. Mulutnya melumat payudaraku dan mengisapnya dengan gemas membuatku semakin tak karuan.

Aku mulai menggila, suaraku terdengar keras sekali beradu dengan erangannya dan deritan ranjang yang bergoyang. Penisnya masih keluar-masuk dengan bebasnya divaginaku yang sudah sangat becek sekali. Aku mendesah makin tak karuan, kala dadaku yg satu lagi diremas oleh tangan kirinya. Tubuhku menggelinjang, kujambak rambutnya, pinggulku kugerak-gerakkan terus sebagai ekspresi rasa nikmat.

Gelinjang tubuhku makin tak terkendali karena merasa akan segera keluar, kugerakkan badanku sekuat tenaga sehingga penis itu menusuk semakin dalam. Mulutnya terlepas dari dadaku karena aku makin bersemangat menggenjotnya. Dia justru makin rakus mengerjai dadaku. Putingku kembali ditangkap dengan mulut kemudian digigit denga pelan, aku merintih dan meringis karena sedikit nyeri, namun juga merasa nikmat. Kami masih terus bergoyang berirama. Aku merasakan akan segera orgasme. Maka aku mendesah sejadi-jadinya.

Mengetahui aku sudah diambang klimaks, tiba-tiba dia melepaskan pelukannya dan berbaring telentang. Ada perasaan kesal kala dia melepaskan penisnya diambang orgasmeku. Tapi kekesalanku segera hilang setelah disuruhnya aku membalikan badanku berhadapan dengannya. Dia biarkan aku mencari kepuasanku sendiri dalam gaya woman on top. Aku sangat senang sekali karena posisi ini adalah posisi favoritku yang sering kulakukan bersama mantan pacarku . Aku tanpa ragu menuntun penisnya yang masih mengeras ke arah vaginaku dan aku mengambil posisi menduduki tubuhnya. Setelah penisnya memasuki vaginaku, aku mulai menggerakkan tubuhku naik turun. Dengan bernafsu kugoyangkan pinggulku diatas tubuhnya. Kini justru aku yang aktif memacu kenikmatan diatas tubuh tegapnya. Perasaan nikmat mengalir dengan deras di sekujur tubuhku. Kembali kurasakan kenikmatan yang tertunda tadi. Aku berusaha sekuat tenaga menahan klimaksku. Aku mendesah tak karuan seperti semula, merasakan batangnya yang masih kokoh mengaduk-aduk liang kewanitaanku. Dia dengan sibuk menggerakkan pinggulnya membalas goyanganku . Aku semakin menikmati persetubuhan lain jenis ini.

Dadaku kembali terayun-ayun seiring goyangan tubuhku. Warnanya sudah kemerah-merahan karena diremas dan diemut olehnya. Malah kini makin mencuat dan menjulang keatas seiring dengan nafsuku yang sudah diubun-ubun. Stanco masih sibuk membantuku menaik-turunkan tubuhku dengan cara mengangkat pantatku. Hal itu justru membuatku makin gila. Dia tidak hanya mengangkat pantatku malah meremasnya juga. Hal itu membuat payudaraku makin hebat bergocang. Pasti orang lain yang melihatnya sangat bernafsu sekali, melihat dadaku bergerak dengan indah keatas kebawah.

Stanco nampaknya sangat senang menyaksikan payudaraku yang bergoyang-goyang seirama tubuhku yang naik turun. Matanya tak pernah lepas dari payudaraku. Hal itu membuatku makin bernafsu saja. Aku sangat senang jika orang lain mengagumi keindahan tubuhku, maka aku ikut membantu kedua belah telapak tangannya meremasi payudaraku. Dia mencengkramkan kedua tangannya pada payudaraku. Aku sudah tak kuat untuk menahan orgasmeku. Apalagi ketika dia mendekatakan kepalanya kedadaku. Tanpa menghentikan goyangannya, dicondongkannya wajahnya kedepan meraih dadaku.

Stanco menikmati goyanganku sambil "menyusu" payudaraku yang tepat di depan wajahnya, payudaraku dikulum dan digigit kecil dalam mulutnya seperti bayi sedang menyusu. Aku meresapi setiap detil kenikmatan yang sedang menyelubungi tubuhku, semakin bersemangat pula aku melakukan persetubuhan ini. Terkadang aku melakukan gerakan memutar sehingga vaginaku terasa seperti diaduk-aduk. Sama sepertiku stanco juga mendesahdesah sambil menyebut namaku.

Dengan posisi wanita diatas seperti ini, aku merasakan bukan hanya dinding vaginaku yang tergesek, melainkan klitorisku juga tergesek-gesek, makanya aku makin lemas dan merem-melek keenakan. Genjotan dan dengusannya semakin keras, menandakan dia akan segera mencapai klimaks, hal yang sama juga kurasakan pada diriku. Otot-otot kemaluanku berkontraksi semakin cepat meremas-remas penisnya. Penisnya terus dan terus menghujam-hujam keluar masuk vaginaku.

"Yess. . . dikit lagi. . . aahh. . Stan. . . udah mau. . . " aku mempercepat iramaku. Walau sudah mulai lemas, aku terus mempercepat goyanganku karena merasa sudah mau keluar, makin lama gerakanku makin liar dan eranganku pun makin tidak karuan menahan nikmat yang luar biasa itu. Pada detik-detik mencapai puncak tubuhku mengejang hebat diiringi teriakan panjang. Cairan cintaku seperti juga keringatku mengalir dengan derasnya menimbulkan suara kecipak. Dan ketika klimaks itu sampai aku menjerit histeris sambil mempererat pelukanku. Benar-benar dahsyat yang kuperoleh darinya.

Dia masih terus mengoyangkan penisnya sehingga orgasmeku makin panjang, malah kini dia melenguh-lenguh lebih cepat.

"Oh. . . . . . oookkhh. . . akuuuhh maauu. . . keluuuaaarr Aliah. . . ", dia berteriak kesetanan dan genjotannya makin bertambah cepat. Dalam hitungan detik kurasakan cairan kental menembak keliang senggamaku, setidaknya ada 3 kali tembakan sebelum seluruh spermanya masuk semuanya kerahimku. Untung saat itu bukan masa suburku sehingga aku tidak takut hamil. Akhirnya aku ambruk diatas tubuhnya. Kurasakn sisa spermanya mengakir keluar dari vaginaku. Dia mencium keningku sambil mengucapkan terimakasih. Katanya dia sangat menikmati adegan tadi. Aku sangat tersanjung, setidaknya dia tidak menganggapku cewe murahan.

Setelah kupikir-pikir kalo aku tidak dipengaruhi alcohol tadi, pasti aku tidak akan merasakn kenikmatan seperti tadi. Bayangkan aku 3 kali orgasme dibuatnya. Sungguh indah dan belum pernah kurasakn dari sipapun, bahkan dari mantan-mantanku juga.

Setelah membersihkan badan akhirnya kami tertidur. Aku bangun paginya dengan bahagia sekali. Kulihat Stanco terbaring disampingku dengan nyeyak. Sebelum pamitan pulang pagi itu, Stanco memberikan kehangatan yang terakhir kalinya dengannya. Kami bersetubuh sekali lagi dibathup kamar mandiku. Kami sama-sama menikmati puncak kenikmatan secar bersama-sama. Sungguh kenikmatan yang tiada tara. Dia memperlakukanku seperti layaknya seorang ratu. Tapi aku sangat menyesal karena Stanco harus balik ke Malaysa beberapa hari kemudian.

Cerita Seks Remaja : Disaat-saat libidoku sedang naik, terkadang aku masih merindukan Stanco di sisiku. Walau ia berjanji akan sering balik ke Bandung, tapi aku akan mencoba melupakannya dan berusaha mencari petualanganku yang lain, tentunya dengan cowo-cowo macho lainya.
◄ Newer Post Older Post ►
 

Copyright 2012 MEMEK TANTE GIRANG Seo Elite by BLog BamZ | Blogger Templates